Blog Islam Sehari-hari Alquran dan Hadist

Mengenal Definisi Wali Allah dan Karomah yang Dimilikinya

Masjid al-Muhdlor di Tarim, Hadramaut. (Foto: travellers)
Masjid al-Muhdlor di Tarim, Hadramaut. (Foto: travellers)

Dalam Al-Quran Allah. Mereka adalah orang yang mendekat dan menolong agama Allah subhanahu wa-ta'ala (SWT), atau orang yang didekati atau orang yang ditolong Allah SWT.

Hal itu dibuktikan dengan keistimewaan dan kelebihan yang dianuegarahkan Allah Ta'ala kepada wali-Nya, berupa karomah. Karomah yang dimiliki para wali Allah SWT adalah anugerah dari Tuhan untuk hambaNya. Pada hakikatnya karomah para wali Allah SWT itu tidaklah dapat dipelajari. Karomah atau kelebihan para wali Allah sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Karomah wali adalah sebuah pemberian dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang shalih tanpa ia bersusah payah darinya. Berbeda dengan seorang yang menggunakan ilmu hasil dari persekutuannya dengan syaitan, maka ia akan bersusah payah untuk melakukannya".

Al-Quran telah menjelaskan wali Allah SWT dalam ayat-ayatnya. Dengan penjelasan ini diharapkan umat Islam dan masyarakat secara luas tak lagi bingung terkait sosok wali allah SWT.

Dalil-dalil Al-Quran tentang Wali Allah

Ayat Al-Quran yang menjelaskan wali Allah adalah:

1. Ali 'Imran ayat 31

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Lafadz:

Qul ing kuntum tuḥibbụnallāha fattabi'ụnī

yuḥbibkumullāhu wa yagfir lakum żunụbakum, wallāhu gafụrur raḥīm

Artinya:

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

2. Al-Maidah ayat 54

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ

يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Lafadz:

Yā ayyuhallażīna āmanụ may yartadda mingkum 'an dīnihī fa saufa ya`tillāhu biqaumiy yuḥibbuhum wa yuḥibbụnahū ażillatin 'alal-mu`minīna a'izzatin 'alal-kāfirīna yujāhidụna fī sabīlillāhi wa lā yakhāfụna laumata lā`im, żālika faḍlullāhi yu`tīhi may yasyā`, wallāhu wāsi'un 'alīm

Artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui."

3. Yunus ayat 62 dan 63

62. أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

63. ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ

Lafadz:

62. Alā inna auliyā`allāhi lā khaufun 'alaihim wa lā hum yaḥzanụn

63. Allażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

Artinya:

62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada

kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

63. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Daari ayat-ayat tersebut, setiap Muslim juga bisa mempelajari ciri-ciri dan karakter seorang wali Allah SWT. Sifat ini bisa jadi bahan untuk terus belajar menjadi orang yang lebih baik.


Karaketer Wali Allah dalam Al-Quran

Karakter dalam Al-Quran yang menjelaskan wali Allah adalah:

  • Orang-orang yang ittiba (mengikuti) Sunnah Rasulullah

  • Lemah lembut kepada sesama mukmin

  • Tegas terhadap orang-orang kafir

  • Berjihad di jalan Allah SWT

  • Tidak takut terhadap celaan si pencela

  • Tidak ada rasa takut dan sedih dalam hatinya terhadap segala

    ketetapan Allah SWT

Selalu menjaga keimanan serta ketaqwaannya kepada Allah SWT. Wali Allah SWT tidak identik dengan mereka yang bisa jalan di air, terbang, atau punya kelebihan lain. Al Quran menjelaskan Wali Allah adalah mereka yang selalu berusaha dekat dengan Allah SWT dan menjalankan sunnah nabi-Nya.

Mengenal Karomah-Karomah Wali Allah

Karomah merupakan anugerah Allah SWT bagi hamba-Nya yang terpilih. Mereka adalah Kekasih Allah. Baik yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran, riwayat kisah para wali Allah, serta kejadian luar biasa dialami manusia. Semua itu terbagi menjadi empat macam, di antaranya Mukjizat, Karomah, Ma'unah dan Irhas.

Seperti diketahui, Mukjizat dan Irhas atas kehendak Allah untuk para Nabi terdahulu. Sedangkan Karomah adalah anugerah untuk para wali. Serta Ma'unah merupakan pertolongan Allah di luar dugaan. Seperti peristiwa orang selamat usai tiga hari tertimbun gempa. Hal itu menjadi bukti kebesaran Tuhan yang patut dipahami, guna mempertebal keimanan.

Meski begitu, karomah dinilai pula sebagai ujian dari Allah.

Disebabkan para wali berbeda dengan para Nabi. Mereka seakan diuji keimanannya, menjadi sombong atau semakin beriman berkat anugerah tersebut.

Karomah adalah anugerah dari Allah, yang secara bahasa berarti kehormatan atau kemuliaan. Selain itu, dikenal pula karomah adalah kejadian luar biasa di luar logika dan kemampuan manusia biasa, terjadi pada diri seseorang yang berpangkat Wali.

Lain halnya dengan Mukjizat. Sebuah keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT, supaya umatnya mau percaya dengan kebesaran Tuhan.

Beberapa kisah karomah yang paling terkenang, Ashabul kahfi yang tertidur selama 309 tahun. Serta peristiwa makanan yang diberikan Allah kepada Maryam binti Imran.

Karomah Bisa Berbuah Ujian

Di kalangan ulama menyebutkan bahwa karomah bisa menjadi suatu ujian. Saat hamba yang bersangkutan berubah menjadi sombong, maka karomah yang diterimanya itu menjadi istidraj. Sebaliknya jika karomah malah menebalkan iman dan melahirkan kerendahan hati, maka Allah angkat derajatnya.

Hubungan Wali dan Karomah

Syekh Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) membahas dasar tentang pemahaman wali dan karomah, dikutip dari sumber Syarh nadzam Jauhar al-Tauhid Syekh Ibrahim Allaqani. Menurutnya, wali termasuk seorang 'arif billah (mengetahui Allah).

Sekadar derajat dengan menjalankan secara sungguh-sungguh taat kepada Allah dan menjauhi maksiat. Maksudnya, para wali menjauhi segala macam kemaksiatan bersamaan dengan selalu bertaubat kepada Allah.

Karena wali itu belum kategori ma'shumin atau terjaga seperti Nabi. Maka wali belum bisa meninggalkan maksiat secara penuh. Karenanya mereka disebut waliyullah atau Wali Allah.

Alasan Para Wali Dikaruniai Karomah

Kisah-kisah Mukjizat yang diterangkan dalam Al-Quran. Serta menyinggung lahirnya karomah-karomah atau keistimewaan yang dimiliki oleh para Wali. Sebagai bentuk pembuktian kebesaran Allah SWT.

Munculnya karomah di tangan ulama besar dan para wali, seperti kisah Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ia mengangkat kepercayaan umat supaya lebih tebal imannya terhadap Allah. Kala itu, ia yang dikisahkan oleh Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam Secercah Tinta (2012).

Syekh Abdul Qadir memiliki karomah bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Demikian pula Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani yang disebut Habib Luthfi bin Yahya.

Diriwayatkan Habib Luthfi, suatu ketika rombongan berjalan dari Tarim, Hadhramaut, Yaman. Mereka hendak ziarah ke Baitullah al-Haram Makkah, kemudian ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Di tengah perjalanan, salah seorang ada yang meninggal. Kemudian melapor kepada Imam Yahya. Beliau datang dan memegang telinga orang tersebut. Sembari berkata: "Hai kamu, mau saya ajak ziarah ke jaddana (kakekku) al-Musthafa SAW. Nanti setelah berziarah ke jaddana al-Musthafa SAW, mau mati, matilah. Ayo qum biidznillah, hiduplah kembali dengan izin Allah."

Akhirnya orang tersebut hidup kembali. Namun sesampainya di Tarim dan menyelesaikan ziarah di makam Rasulullah SAW, orang itu meninggal.

Salah satu kisah karomah wali Allah ini, menjadi bukti bahwa yang tertuang dalam AlQuran mengenai Mukjizat para Nabi benar adanya.

Macam Karomah

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan ada dua macam karomah, yakni karomah hakiki dan karomah tak hakiki. Secara substasial keduanya berbeda. Ulama dari Hadramaut Yaman menjabarkan dalam kitab berjudul An-Nafais Al-Uluwiyyah fil Masailis Shufiyyah, seperti berikut:

"Seseorang hanya mementingkan kepentingan duniawinya dan memuaskan keinginan nafsunya jika ia mengejar 'karomah tak hakiki’ seperti melipat bumi, memperoleh berita-berita gaib dan sebagainya. Tetapi jika ia mencari 'karomah hakiki’ seperti meningkatnya iman dan keyakinan, hidup di dunia dengan zuhud, dan condong pada kehidupan akhirat, dan sebagainya, maka perbuatan itu merupakan hal yang terpuji. Inilah yang harus dicari karena semua itu merupakan perkara haq dan sesuai dengan tuntutan agama."

Karomah Hakiki

Karomah hakiki atau al-karamat al-haqiqiyyah contoh mudahnya menebalnya iman, hidup secara zuhud dan menyukai kehidupan ukhrawi atau mementingkan akhirat.

Perbuatan mulia seseorang. Ia bersungguh-sungguh melakukan amalan-amalan dengan maksud meningkatkan iman. Lalu memantapkan hidup dengan zuhud dan memburu manfaat ukhrawi.

Karomah hakiki ialah kemampuan luar biasa yang bersifat ruhani atau ukhrawi, seperti kemampuan beribadah yang di atas rata-rata orang lain.

Karomah tak hakiki atau al-karamat ash-shuriyyah, contoh mudahnya, jalan cepat seolah dapat melipat bumi. Serta mendapatkan berita gaib dari langit. Seraya mengetahui suatu peristiwa sebelum terjadi.

Maka orang tersebut telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Karena ini berarti orang tersebut mengejar hal duniawi dalam ibadah kepada Allah SWT. karomah tak hakiki adalah karomah yang hanya kelihatannya saja dan bersifat duniawi.

Demikian semoga kita mampu memahami kehadiran Wali Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran dan kisah-kisah yang memberikan keteladanan bagi umat manusia. Wallahu a'lam bisshowab.

Tags