Blog Islam Sehari-hari Ilmu Tauhid

Pentingnya Memiliki Sifat Qanaah

Ilustrasi sifat qanaah yang harusnya dimiliki oleh manusia untuk menjauhi ketamakan. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi sifat qanaah yang harusnya dimiliki oleh manusia untuk menjauhi ketamakan. (Foto: Istimewa)

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan Allah sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi. Amalan hati atau kualitas batin yang terdapat pada diri seseorang sangatlah penting dalam meraih ridha Allah.

Namun, manusia adalah makhluk yang menjadi muara dari kesalahan, kekhilafan, kealpaan dan juga lupa. Bertaubat kepada Allah menjadi sebaik-baiknya penebus kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat.

Sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

"Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat". (HR. Tirmidzi, 2499)

Diantara kesalahan yang banyak dilakukan manusia saat ini adalah tidak adanya sifat qana'ah dalam hidupnya. Sehingga lebih cenderung memiliki sifat tamak dan serakah, serta tidak pernah merasa cukup padahal pemberian Allah sangatlah banyak.

Qanaah berasal dari bahasa Arab yaitu qani'a-qani'atan. Secara etimologi memiliki makna merasa cukup atau rela.

Sedangkan menurut terminologi qanaah adalah merasa cukup dan rela menerima atas apa yang diberikan atau dikaruniakan Allah kepadanya. Dengan istilah lain bahwa qana'ah bermakna seseorang rela dan berserah diri atas apa yang ditakdirkan Allah tanpa ada rasa mengeluh dan marah.

Sifat qanaah bisa digambarkan dengan keyakinan bahwa apa yang telah diberikan Allah itu adalah takdir yang terbaik menurut ketetapan Allah.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda;

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

"Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut" (HR. Ibnu Majah, No. 4138).

Hadits di atas adalah dasar yang kuat bagi setiap Muslim untuk memiliki sifat qana'ah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah "setiap rezeki yang diberikan Allah wajib disyukuri. Bagi orang yang pandai bersyukur atas setiap nikmat pemberian Allah maka hatinya akan menjadi lapang".

Bahkan saat pagi hari, bagi seorang Muslim yang mengawalinya dengan rasa syukur dan merasa cukup atas nikmat Allah maka seolah baginya telah memiliki dunia dan seisinya.

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda;

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya" (HR. Tirmidzi no. 2346).

Ada beberapa ciri-ciri perilaku seorang Muslim yang menujukkan sifat qana'ah, di antaranya;

  1. Hidup dalam keadaan apa adanya, dan rela atas pemberian Allah dengan penuh rasa syukur.

  2. Merasa cukup tanpa mengeluh atas apa yang sudah ditakdirkan Allah baginya.

  3. Meyakini dalam hati bahwa kekayaan itu buka hanya harta saja, tetapi kelapangan hati juga merupakan kekayaan yang sangat berharga. Sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya; “Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati” (HR. Bukhari Muslim)

  4. Sabar dan tabah dalam menjalani setiap ikhtiar untuk memperbaiki kehidupan dengan mendapatkan ridha Allah Ta'ala.

Dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa cara untuk mengaplikasikan sifat qana'ah dalam pribadi Muslim. Begitu pula bisa diajarkan kepada anak-anak, yaitu; selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberi oleh Allah, tidak merasa iri dengki kepada orang lain, hidup sederhana dan bersahaja serta lebih cenderung menyesuaikan diri dengan kemampuannya, maksimalkan ikhtiar untuk meraih sesuatu dengan cara yang benar, tidak mudah kecewa, menyerah dan putus asa apabila sesuatu yang dikejar namun belum berhasil didapatkan, dan terakhir memiliki keyakinan yang tinggi bahwa setiap pemberian Allah adalah sebuah takdir yang terbaik bagi hamba menurut Allah Ta'ala.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan manfaat memiliki sifat qana’ah

  • Mendapatkan dunia seluruhnya

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, no. 2346; Ibnu Majah, no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).

  • Menjadi orang yang beruntung

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

"Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya". (HR. Muslim, no. 1054).

  • Mudah bersyukur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu" (HR. Muslim, no. 2963).

  • Menjauhkan diri dari hasad (iri, cemburu pada nikmat orang lain)

Kenapa harus cemburu pada orang kalau kita sendiri sudah merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri?

Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad oleh Ibnu Taimiyyah, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang menjadi sasaran hasad." (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:111).

  • Mengatasi berbagai problema hidup seperti berutang

Karena kalau seseorang memiliki sifat qana’ah, ia akan menjadikan kebutuhan hidupnya sesuai standar kemampuan, tak perlu lagi baginya menambah utangan.

Ingatlah, orang yang memiliki sifat qana’ah sungguh terpuji. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta dalam doa beliau sifat qana’ah (selalu merasa cukup) seperti dalam doa berikut,

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721, dari ‘Abdullah).

‘Afaf artinya menjaga iffah, menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik, termasuk juga menjauhkan diri dari syubhat (hal yang masih samar). Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “’Afaf adalah menahan diri dari yang haram, juga menjauhkan dari hal-hal yang menjatuhkan kehormatan diri. Ulama lain mengungkapkan ‘iffah (sama dengan ‘afaf) adalah menahan diri dari yang tidak halal.” (Syarh Shahih Muslim, 12: 94)

(WIT)

Tags