Etika Berbicara dalam Islam untuk Meraih Ridha Ilahi
Manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang memiliki keterampilan sosial dan komunikasi luar biasa. Manusia bisa menyampaikan maksud, bertukar pikiran, dan mempererat silaturahmi. Namun, tahukah Anda bahwa ada etika berbicara dalam Islam agar tidak sampai menyakiti lawan bicara?
Di era digital saat ini, batas-batas dalam berkomunikasi kian kabur. Kebebasan berpendapat kerap disalahgunakan untuk melontarkan celaan, ujaran kebencian, hingga penyebaran berita bohong. Padahal, Islam sebagai agama sempurna menaruh perhatian besar pada adab sosial, termasuk cara berkomunikasi.
Key Takeaways
Etika berbicara sangat penting dalam akidah Islam karena lisan merupakan cerminan isi hati dan kualitas diri, serta kunci keamanan dunia dan akhirat.
Etika berbicara dalam Islam mencakup berkata baik atau diam, qaulan sadida, qaulan baligha, qaulan layyina, dan qaulan karima.
Etika berbicara sesuai syariat Islam dapat diterapkan dalam berbagai aspek sosial sehari-hari, mulai dari keluarga, teman atau rekan, dan juga sosial media.
Mengapa Etika Berbicara Penting dalam Ajaran Islam?
Dalam ajaran Islam, lisan bukan sekadar alat ucap mekanis, melainkan cerminan isi hati seseorang. Kualitas keimanan seorang Muslim dapat diukur dari caranya mengontrol ucapan. Mengutip pembahasan Muslim.or.id, menjaga lisan merupakan salah satu rukun keselamatan di dunia dan akhirat.
Salah satu sahabat, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang akibat dari tidak menjaga etika berbicara dalam Islam.
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ، لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا، فَيَهْوِي بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا
Artinya: “Bisa jadi seseorang mengatakan satu kalimat yang dimurkai Allah, suatu kalimat yang menurutnya tidak apa-apa. Namun, akibat kalimat itu dia jatuh ke neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR. Tirmidzi no. 2314 dan Ibnu Majah no. 3970)
Hadist tentang etika berbicara di atas secara tegas memposisikan lisan sebagai indikator yang menentukan nasib seseorang. Hanya satu kalimat buruk dapat memancing murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyeretnya ke dalam siksa api neraka selama puluhan tahun.
Oleh karena itu, menjaga lisan bukan sekadar soal kesopanan sosial, tapi merupakan bagian dari cara membangun ketaatan pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar terhindar dari kemurkaan-Nya. Sebab, taat adalah menjauhi semua larangan-Nya, termasuk berkata buruk kepada orang lain.
Etika Berbicara dalam Islam Berdasarkan Al-Qur’an
Etika berbicara dalam Al-Qur’an dan hadis Islam tidak hanya menjadi pembahasan lalu, melainkan dalam banyak kesempatan. Berdasarkan kajian para ulama, berikut ini beberapa etika utama yang termaktub dalam ayat-ayat suci.
1. Berkata Baik atau Diam
Islam menegaskan bahwa setiap mukmin harus menimbang setiap kata sebelum meluncurkannya. Jika perkataan tersebut mengandung kebaikan, maka sampaikan. Namun, bila perkataan cenderung membawa mudarat (keburukan), diam merupakan pilihan terbaik.
Melalui riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari Muslim).
2. Qaulan Sadida (Perkataan yang Benar dan Jujur)
Selain hanya mengatakan hal baik atau memilih diam, etika berbicara dalam Islam juga menganjurkan Anda untuk hanya berbicara hal-hal yang benar atau senantiasa jujur.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 70:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadida).”
3. Qaulan Baligha (Perkataan yang Efektif dan Tepat Sasaran)
Mengutip Rumahfiqih.com, lisan kaum Mukmin semestinya menerapkan prinsip Qaulan Baligha, yaitu menasehati secara tepat sasaran—tanpa mempermalukan. Ini adalah batasan penting dalam etika berbicara agar orang lain dapat menyadari kekeliruan tanpa merasa tersudut.
4. Qaulan Layyina (Perkataan yang Lemah Lembut)
Etika berbicara dalam Islam berikutnya adalah Qaulan Layyina atau berbicara lemah lembut. Bahkan, dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 44, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengisyaratkan untuk tetap berbicara lembut, sekalipun berhadapan dengan pemimpin kejam seperti Firaun. Sebab, nada bicara tinggi lebih sulit diterima.
5. Qaulan Karima (Perkataan yang Penuh Kasih Sayang)
Aturan lainnya agar umat Islam tidak terjerumus oleh lisan sendiri adalah berkata dengan penuh kasih sayang serta takzim, terutama kepada orang tua. Sesuai dengan isi Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 23, anak wajib menghormati orang tua dan berbicara dengan penuh kesopanan serta tidak menghardik.
Contoh Penerapan Etika Berbicara dalam Kehidupan Sehari-hari
Penerapan nyata etika berbicara dalam Islam sebagaimana tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis mencakup seluruh dimensi interaksi sosial kita. Bisa di rumah dengan keluarga, di sekolah, lingkungan kerja, hingga media sosial.
1. Di Rumah (Sebagai Anak atau Orang Tua)
Keluarga merupakan orang-orang paling dekat. Menjaga keharmonisan keluarga menjadi salah satu prinsip hidup Islami yang akan membuat hidup Anda lebih bermakna. Salah satu kuncinya tentu dengan menjaga lisan, terutama pada orang tua, sebagaimana penjabaran tentang Qaulan Karima.
2. Di Lingkungan Sekolah atau Tempat Kerja
Sementara itu, cara menjaga lisan di ruang lingkup sekolah atau tempat kerja adalah dengan menghindari perilaku menggunjing orang lain (ghibah) dan mengadu domba (namimah). Jika Anda ingin meluruskan kesalahan rekan, maka lakukanlah secara pribadi agar tidak mempermalukan di depan umum.
3. Dalam Menggunakan Media Sosial
Penerapan etika berbicara dalam Islam di media sosial juga bersifat wajib. Selain mengamalkan doa penenang hati dan pikiran, menjaga lisan—yang terealisasi dalam bentuk ketikan—di ranah digital juga sama penting dengan konfrontasi langsung.
Sebelum membagikan ulang sebuah informasi atau menulis komentar di kolom postingan orang lain, hendaknya lakukan tabayyun (konfirmasi kebenaran). Ingatlah bahwa setiap huruf yang Anda ketik ada pertanggungjawabannya di hadapan-Nya. Jauhi pula over-sharing yang berpotensi memicu hasad, pamer, dan perselisihan.
Mari Jaga Lisan untuk Jaga Hati dan Iman
Serangkaian etika berbicara dalam Islam sejatinya merupakan cara menjaga hati dan iman. Terlebih, kesucian lisan merupakan refleksi langsung dari kesucian hati dan yang melanggarnya berarti dengan sengaja memancing kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Penting untuk senantiasa mengingat agar hanya mengucapkan hal-hal baik, bertutur kata dengan lembut, menasehati tanpa mempermalukan, hingga berbicara penuh kasih sayang agar terhindar dari murka-Nya. Namun, tentunya menjadi hamba yang baik tak cukup sampai di situ.
Ibadah wajib seperti sholat tentu tidak boleh sampai tertinggal. Saat berusaha mempercantik ucapan, berikan pula penampilan terbaik ketika menghadap-Nya. Kenakan alat ibadah seperti sarung estetik modern yang indah untuk mengekspresikan diri sebagai hamba yang patuh tapi tetap syar’i.
Untuk urusan kenyamanan ibadah sehari-hari, Sarung Mangga senantiasa hadir menawarkan perpaduan sempurna kualitas benang premium yang terasa lembut dengan motif kekinian yang sangat pas bagi jiwa muda dinamis. Saatnya menjadi pria Muslim yang memesona, baik dari penampilan hingga tutur katanya.
FAQ
Mengapa etika berbicara dalam Islam sangat penting?
Sebab lisan merupakan cerminan isi hati, menggambarkan kualitas diri, dan penentu keselamatan dunia dan akhirat umat Islam.
Apa prinsip utama etika berbicara dalam Al-Qur’an dan hadis Islam?
Berbicara yang baik atau diam—jika tidak ada hal baik yang dapat dikatakan.
Bagaimana cara menerapkan etika berbicara saat menggunakan media sosial?
Melakukan tabayyun sebelum menyebarkan informasi dan menghindari over-sharing.
Bagaimana cara menegur kesalahan orang lain menurut syariat Islam?
Berbicara secara pribadi (empat mata) dengan lembut tanpa menyudutkan atau mempermalukan.
Sumber:
https://islam.nu.or.id/ilmu-al-quran/6-etika-berbicara-dalam-ayat-ayat-al-qur-an-v5J89
https://tafsiralquran.id/5-prinsip-etika-berkomunikasi-menurut-al-quran/
https://www.rumahzakat.org/adab-berbicara/https://rumaysho.com/18958-hadits-arbain-15-berkata-yang-baik-memuliakan-tamu-dan-tetangga.html
https://muslim.or.id/51938-menjaga-lisan-dari-ucapan-ucapan-kotor-bag-1.html