Blog Islam Sehari-hari Sholat

Memahami Hikmah Shalat Gerhana dan Sejarahnya dalam Islam

Hikmah Shalat Gerhana bagi Umat Islam Source: Magnific
Hikmah Shalat Gerhana bagi Umat Islam Source: Magnific

Dalam Islam, fenomena gerhana matahari maupun gerhana bulan tidak hanya dipandang sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga sebagai tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena itu, disyariatkan shalat gerhana sebagai bentuk pengingat akan keagungan-Nya. Selain itu, terdapat berbagai hikmah shalat gerhana lainnya yang dapat memperkuat keimanan seorang Muslim.

Artikel ini akan mengulas secara lengkap hikmah yang terkandung di dalamnya, sejarah disyariatkannya, serta bagaimana umat Islam seharusnya memaknai fenomena gerhana. Dengan begitu, Anda tidak hanya memahami peristiwanya, tetapi juga pesan spiritual di baliknya.

Key Takeaway

  • Gerhana merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan pertanda kesialan, musibah, atau kejadian gaib tertentu.

  • Hikmah shalat gerhana adalah memperkuat tauhid, meningkatkan rasa syukur, mengingatkan akan Hari Akhir, serta mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal saleh.

  • Saat gerhana terjadi, umat Islam tidak hanya dianjurkan untuk melaksanakan shalat, tetapi juga berdoa, berzikir, beristighfar, dan bersedekah.

Sejarah Disyariatkannya Shalat Gerhana

Shalat gerhana disyariatkan pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai bentuk ibadah ketika terjadi fenomena gerhana matahari atau bulan. Syariat ini sekaligus meluruskan keyakinan masyarakat Arab saat itu yang menganggap gerhana berkaitan dengan kematian atau kelahiran tokoh penting.

Kepercayaan tersebut muncul ketika terjadi gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari Maria al-Qibthiyyah. Sebagian orang mengira gerhana terjadi karena meninggalnya Ibrahim.

Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam langsung menolak anggapan tersebut dan menjelaskan bahwa gerhana merupakan tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan akibat kematian atau kehidupan seseorang. Sebagaimana sabdanya yaitu:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ

Inna asy-syamsa wal-qamara lā yankasifāni limauti aḥadin wa lā liḥayātihi, fa idzā ra’aitum fa shallū wad‘ullāh.

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Jika kalian melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari No. 985).

Adapun mengenai waktu awal disyariatkannya shalat gerhana, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat gerhana pertama kali dilaksanakan pada tahun ke-10 Hijriah, bertepatan dengan wafatnya Ibrahim.

Sementara ulama Mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa shalat gerhana matahari telah disyariatkan sejak tahun ke-2 Hijriah, sedangkan shalat gerhana bulan pada tahun ke-5 Hijriah.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, para ulama sepakat bahwa shalat gerhana merupakan ibadah yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Baca juga: Mengenal Rukun Sholat dan Syarat yang Wajib Dilakukan

Hikmah Shalat Gerhana bagi Umat Islam

Shalat gerhana bukan sekadar ibadah yang dilakukan saat terjadi gerhana matahari atau bulan, tetapi ibadah dengan berbagai hikmah yang dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan seorang Muslim. Berikut ini hikmah-hikmahnya.

1. Mengingat Kebesaran dan Kekuasaan Allah

Gerhana merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menunjukkan bahwa seluruh alam semesta berada di bawah kendali-Nya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ

Inna asy-syamsa wal-qamara āyatāni min āyātillāh.

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Meneguhkan Tauhid dan Menghilangkan Mitos

Pada awalnya, sebagian masyarakat menganggap bahwa gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun langsung meluruskan keyakinan tersebut dan menjelaskan bahwa gerhana termasuk bentuk kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Karena itu, hikmah shalat gerhana adalah mengajarkan umat Islam untuk menjauhi mitos dan memperkuat tauhid kepada Sang Pencipta.

3. Mengingatkan akan Hari Kiamat

Fenomena gerhana menjadi pengingat akan peristiwa besar yang akan terjadi pada Hari Kiamat, ketika tatanan alam semesta berubah atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Qiyamah ayat 6–9:

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ۝ فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ ۝ وَخَسَفَ الْقَمَرُ ۝ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

Yas’alu ayyāna yaumul-qiyāmah. Fa idzā bariqal-baṣar. Wa khasafal-qamar. Wa jumi’asy-syamsu wal-qamar.

Artinya: “Dia (manusia) bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?” Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan bulan pun hilang cahayanya, serta matahari dan bulan dikumpulkan.”

Baca juga: 4 Bekal Perjalanan Menuju Akhirat yang Penting Diketahui!

4. Meningkatkan Rasa Takut dan Harap kepada Allah

Fenomena gerhana menjadi pengingat bahwa seluruh alam semesta berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dapat berubah kapan saja sesuai kehendak-Nya. Kesadaran ini menumbuhkan rasa takut sekaligus harap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dengan begitu, seorang Muslim terdorong untuk memperbanyak ibadah, bertaubat, dan memohon rahmat-Nya. Sebagaimana bunyi sebuah hadis:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ

Inna asy-syamsa wal-qamara lā yaksifāni limauti aḥadin wa lā liḥayātihi, walākinnahumā min āyātillāhi yukhawwifullāhu bihimā ‘ibādah.

Artinya: “Sesungguhnya ketika tertutup cahaya matahari dan bulan (gerhana) bukanlah sebab karena ada yang mati atau karena ada yang hidup, namun itu adalah tanda kuasa Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya dengan terjadi gerhana tersebut.” (HR. Muslim, no. 901)

5. Mendorong untuk Memperbanyak Amal Kebaikan

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan umat Islam untuk menyikapi fenomena gerhana dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Beliau bersabda:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Fa idzā ra’aitum dzālika fad‘ullāha wa shallū wa tashaddaqū.

Artinya: “Jika kalian melihat (gerhana) itu, maka berdoalah kepada Allah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk itulah, salah satu hikmah shalat gerhana adalah mendorong seorang Muslim untuk lebih aktif melakukan berbagai amal saleh sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

6. Mempererat Ukhuwah Islamiyah

Shalat gerhana umumnya dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Selain bernilai ibadah, kegiatan ini juga mempererat persaudaraan sesama Muslim dan menjadi sarana untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kesalahpahaman tentang Gerhana yang Perlu Diluruskan

Sejak zaman dahulu, gerhana matahari maupun gerhana bulan sering dikaitkan dengan berbagai mitos dan kepercayaan. Di beberapa daerah di Indonesia, khususnya dalam tradisi Jawa, gerhana dipercaya dapat membawa kesialan atau membahayakan ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Karena itu, muncul berbagai ritual seperti bersembunyi di bawah tempat tidur, menggelar tradisi liwetan, menabuh lesung, hingga membuat bunyi-bunyian untuk mengusir makhluk mitologis seperti Batara Kala yang diyakini sedang “memakan” matahari atau bulan.

Selain itu, sebagian masyarakat zaman dahulu juga percaya bahwa gerhana dapat menjadi pertanda datangnya musibah. Keyakinan serupa juga ditemukan di berbagai peradaban kuno, termasuk masyarakat Arab sebelum Islam, yang menganggap gerhana sebagai pertanda kematian atau kelahiran tokoh penting.

Namun, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam segera meluruskan anggapan tersebut dan menegaskan bahwa gerhana tidak memiliki hubungan dengan kehidupan atau kematian manusia.

Melainkan salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terjadi sesuai hukum alam yang telah ditetapkan-Nya, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, sebagaimana tertulis dalam HR. Al-Bukhari No. 985 di atas.

Memaknai Keagungan Allah dari Fenomena Gerhana

Di balik pelaksanaannya, hikmah shalat gerhana cukup banyak, mulai dari mengingatkan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, memperkuat tauhid, hingga menyadarkan manusia akan datangnya hari akhir. Karena itu, ketika gerhana terjadi, perbanyak amal saleh seperti shalat sunnah, zikir, doa, dan sedekah sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Namun, agar ibadah dapat dijalankan dengan lebih khusyuk, disarankan untuk menggunakan perlengkapan ibadah yang nyaman, seperti Sarung Mangga. Sarung favoritnya para santri ini hadir dengan bahan berkualitas premium yang nyaman digunakan, sehingga dapat meningkatkan fokus dan kekhusyukan shalat.

Selain itu, Sarung Mangga juga menawarkan harga terjangkau serta beragam pilihan motif, mulai dari motif polos, bunga, hingga khas Nusantara. Sehingga, cocok digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pekerja muda, hingga dewasa. Cek koleksi Sarung Mangga sekarang dan wujudkan kualitas ibadah harian yang lebih baik, terutama saat shalat gerhana.

Baca juga: Macam-macam Sholat Sunnah, Niat, dan Waktu Pelaksanaannya

FAQ

Apakah shalat gerhana hukumnya wajib?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Berapa jumlah rakaat shalat gerhana?

Shalat gerhana terdiri dari dua rakaat. Setiap rakaat memiliki dua kali rukuk, sehingga total terdapat empat rukuk dalam satu kali shalat gerhana.

Kapan waktu pelaksanaan shalat gerhana?

Shalat gerhana dilaksanakan sejak gerhana mulai terlihat hingga gerhana berakhir. Jika gerhana telah selesai sebelum shalat dilaksanakan, maka shalat gerhana tidak lagi disunnahkan.

Bolehkah shalat gerhana dilakukan sendiri di rumah?

Meskipun lebih utama dilaksanakan secara berjamaah di masjid, shalat gerhana tetap sah jika dilakukan sendiri di rumah.

Referensi:

  1. https://kemenag.go.id/en/hikmah/7-hikmah-yang-bisa-dipetik-dari-peristiwa-gerhana-GivCj 

  2. https://mirror.mui.or.id/hikmah/41457/shalat-gerhana-sejarah-dan-hikmah-di-balik-pensyariatannya/ 

  3. https://rumaysho.com/13069-pesan-berharga-dari-shalat-gerhana-1.html 

  4. https://infomu.co/hadits-hadits-tentang-keutamaan-manfaat-shalat-gerhana/ 

  5. https://jatim.nu.or.id/keislaman/mengapa-dianjurkan-mengerjakan-shalat-gerhana-bulan-XPo89 

  6. https://hijra.id/blog/featured/10-hikmah-dan-pelajaran-dari-shalat-gerhana/ 

  7. https://mui.or.id/baca/berita/gerhana-bulan-dan-mitos-mitos-jahiliyah-yang-ditentang-islam

  8. https://majalahnabawi.com/gerhana-bulan-mitos-dan-humanisasi-catatan-singkat-khataman-6-kitab-hadis/

  9. https://muhammadiyah.or.id/2025/09/gerhana-antara-mitos-dunia-dan-pandangan-islam/

  10. https://www.nu.or.id/opini/gerhana-dan-mitos-yang-menyertainya-A9ee2

Tags