Apakah Boleh Puasa Setelah Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Setelah sebelumnya umat Islam dianjurkan berpuasa selama sembilan hari di awal Dzulhijjah, muncul pertanyaan penting, apakah boleh puasa setelah Idul Adha?
Topik ini kerap menjadi perbincangan, terutama karena ada hari-hari tertentu yang justru dilarang untuk berpuasa. Lalu, bagaimana hukum dan dalilnya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Key Takeaways
Tiga hari setelah Idul Adha adalah hari Tasyrik yang menjadi larangan bagi umat Islam untuk berpuasa. Hal ini karena umat Islam masih merayakan hari raya kurban dengan makan, minum, serta menikmati hidangan daging kurban sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Adapun hari yang diharamkan berpuasa pada bulan Dzulhijjah adalah tanggal 10, 11, 12, dan 13 sebagai momen makan dan minum bagi umat Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan hari tersebut istimewa untuk berdzikir.
Salah satu hikmah tidak berpuasa selama hari Tasyrik adalah menikmati keindahan berbagi makan dan minum dengan sesama, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas rezeki yang diberikan, serta merayakan kegembiraan di hari raya kurban.
Hukum Puasa Setelah Idul Adha dan Dalilnya
Larangan puasa setelah Idul Adha tidak datang tanpa sebab, melainkan memiliki dasar yang jelas dalam syariat Islam. Umat Muslim dilarang berpuasa pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) serta hari Tasyrik, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Umar Ra, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan kurban ketika menunaikan haji.” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut diperkuat dengan riwayat lain yang menyebutkan bahwa hari Tasyrik adalah hari untuk makan dan minum. “Dari Nubaisyah al-Hudzali, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan hari zikir.” (HR Muslim).
Syaikh Suja’ dalam Kitab Matan Ghayah wa Taqrib menyebutkan lima hari terlarang untuk berpuasa, yaitu Idul Fitri, Idul Adha, dan pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Lalu, apa yang menjadi latar belakang larangan berpuasa di hari Tasyrik?
Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini menjelaskan dalam Kitab Kifayat al-Akhyar, bahwa menurut pendapat terdahulu, Imam Syafi’i memperbolehkan puasa pada hari Tasyrik bagi orang yang melaksanakan Haji Tamattu’ (mendahulukan umrah daripada haji di bulan Dzulhijjah) dan tidak memiliki hewan untuk disembelih.
Sementara, pendapat terbaru menyebutkan bahwa berpuasa pada hari Tasyrik tetap tidak boleh secara mutlak. Adapun jika merujuk pada pendapat lama, ketentuan tersebut hanya berlaku bagi orang yang sedang menunaikan Haji Tamattu’. Selain kondisi tersebut, hukum berpuasa pada hari Tasyrik tetap haram.
Baca juga: 5 Hikmah Ibadah Haji dan Umrah yang Luar Biasa
Hari yang Diharamkan Puasa Setelah Idul Adha
Lebih jelasnya, berikut ini rangkuman hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa pada bulan Dzulhijjah beserta alasannya.
1. 10 Dzulhijjah
Pada hari Idul Adha, umat Islam haram berpuasa sebagaimana halnya saat Idul Fitri. Islam memang menetapkan hari raya sebagai waktu untuk makan, minum, dan bersyukur.
Larangan ini juga merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sekaligus penegasan bahwa ibadah harus dijalankan sesuai dengan ketentuan syariat. Selain itu, Idul Adha menjadi momen kemenangan dan kebahagiaan setelah menjalankan berbagai amalan di bulan Dzulhijjah, termasuk puasa Arafah.
2. Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah)
Sebagaimana penjelasan sebelumnya, berpuasa pada hari Tasyrik hukumnya haram karena termasuk bagian dari hari raya umat Islam yang khusus untuk makan, minum, dan berdzikir.
Pelaksanaan kurban menghasilkan daging melimpah dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganjurkan umat Islam untuk menikmati berbagai hidangan hasil sembelihan. Sebab, daging kurban merupakan rezeki yang dibagikan sebagai bentuk nikmat dan kebersamaan, sehingga dianjurkan untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, dan mereka yang membutuhkan.
Hal ini juga tercantum dalam Kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hari Tasyrik merupakan hari raya umat Muslim. Karena itu, mayoritas ulama tidak membolehkan berpuasa di Mina maupun di tempat lain.
Ibnu Rajab melanjutkan bahwa ketika orang-orang yang bertamu ke rumah Allah Subhanahu Wa Ta’ala merasa capek setelah perjalanan begitu berat, melaksanakan ihram, dan kesungguhan manasik haji, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mensyariatkan kepada mereka untuk beristirahat di Mina dan tiga hari setelahnya. Karena kasih sayang-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan mereka menyantap daging kurban sembelihan mereka.
Hikmah Memahami Larangan Puasa Setelah Idul Adha
Tidak ada larangan tanpa adanya hikmah. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang umat Islam berpuasa pada hari Tasyrik, maka hikmah tersebut adalah sebagai berikut.
1. Fokus Melaksanakan Kurban
Hari Tasyrik merupakan waktu utama untuk penyembelihan hewan kurban dan pendistribusiannya kepada yang berhak. Kondisi tidak berpuasa membantu umat Islam lebih fokus menjalankan ibadah kurban secara optimal, mulai dari proses penyembelihan hingga berbagi kepada sesama.
Sebab, momen Idul Adha bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga ibadah sosial. Menikmati hidangan dari daging kurban bersama keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar menjadi cara untuk mempererat ukhuwah serta mensyukuri nikmat yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan.
2. Sebagai Wujud Rasa Syukur
Larangan puasa setelah Idul Adha juga menjadi bentuk ajakan untuk mengekspresikan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan. Momentum ini dimanfaatkan dengan menikmati makanan dan minuman, terutama dari hasil kurban, sebagai simbol kebahagiaan dan kecukupan yang patut disyukuri.
3. Memperbanyak Zikir
Tiga hari setelah Idul Adha menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak zikir. Beberapa zikir yang bisa diamalkan adalah membaca takbir (Allahu Akbar), tahmid (Alhamdulillah), dan tahlil (La ilaha illallah).
Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, serta melantunkan takbir setelah sholat fardhu (takbir muqayyad) sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di hari-hari yang mulia ini.
4. Bentuk Kasih Sayang Allah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala seakan “menjamu” hamba-Nya dengan menghadirkan kebahagiaan melalui rezeki yang melimpah, khususnya dari hasil sembelihan hewan kurban. Sebagai bentuk penghormatan atas jamuan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk menikmati makanan yang tersedia serta membagikannya kepada sesama.
Ini sebagai wujud syukur sekaligus pengingat bahwa nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak hanya untuk dirasakan sendiri, tetapi juga untuk disebarkan agar membawa keberkahan bagi banyak orang.
Baca juga: 6 Keutamaan Memberi Makan Orang Berpuasa Menurut Hadits
Sempurnakan Ibadah dengan Lembutnya Sarung Mangga
Pada intinya, larangan puasa setelah Idul Adha merupakan bentuk kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya dengan menghadirkan kebahagiaan melalui rezeki yang melimpah. Momen ini tidak hanya dirayakan dengan rasa syukur, tetapi juga ibadah yang lebih khusyuk dan nyaman.
Sarung Mangga hadir untuk melengkapi momen ibadah lebih khusyuk. Bahan yang adem dan desain sarung yang gen Z banget mampu memberikan kenyamanan ekstra saat sholat hari raya maupun ibadah sehari-hari. Jadikan hari istimewa menjadi kebanggaan bersama Sarung Mangga.
FAQ
Berapa hari puasa setelah Idul Adha?
Umat Islam tidak boleh berpuasa setelah Idul Adha selama 3 hari, yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.
Apakah boleh berpuasa di hari raya Idul Adha?
Tidak boleh, sebab hari itu adalah perayaan kurban sehingga umat Islam dianjurkan menikmati rezeki hasil sembelihan.
Mengapa umat Islam tidak boleh berpuasa pada hari Tasyrik?
Karena masih termasuk bagian dari hari raya umat Islam yang khusus untuk makan, minum, dan berdzikir.
Kapan hari raya kurban dilaksanakan?
Hari raya kurban berlangsung tanggal 10 Dzulhijjah.
Sumber:
https://mui.or.id/baca/mui/asal-usul-hari-tasyrik-dan-mengapa-kita-diharamkan-berpuasa?page=3
https://rumaysho.com/8995-hukum-puasa-senin-kamis-hari-tasyrik.html
https://islami.co/mengapa-tiga-hari-setelah-idul-adha-dilarang-puasa/
https://jatim.nu.or.id/keislaman/makna-hari-tasyrik-11-13-dzulhijjah-dan-keharaman-berpuasa-fFg5T