Blog Islam Sehari-hari Puasa

Mau Puasa Tasua? Pahami Niat, Hukum dan Keutamaannya

Puasa Tasua yang Dianjurkan dalam Islam Source: Freepik
Puasa Tasua yang Dianjurkan dalam Islam Source: Freepik

Ketika memasuki tahun baru Hijriyah, Anda mungkin sering mendengar anjuran untuk menjalankan dua puasa utama di bulan Muharram, yaitu puasa Tasua dan Asyura. Keduanya menjadi amalan sunnah yang istimewa karena memiliki keutamaan dan pahala besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Puasa Tasu’a sendiri dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sehari sebelum puasa Asyura. Amalan ini tidak hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi bentuk pembeda dari tradisi umat sebelumnya, sekaligus menunjukkan kesungguhan umat Islam dalam mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Key Takeaways

  • Puasa Tasu’a dilaksanakan oleh umat Muslim pada tanggal 9 Muharram, sehari sebelum puasa Asyura. Hukumnya sunnah dan memiliki keutamaan tersendiri karena dikerjakan di bulan yang mulia.

  • Anjuran menjalankan puasa Tasu’a sebagai pengiring puasa Asyura bertujuan untuk membedakan praktik ibadah umat Islam dari kebiasaan umat terdahulu (Yahudi)  yang juga berpuasa pada hari Asyura.

  • Salah satu keutamaan puasa Tasua adalah sebagai pembeda cara beribadah umat Muslim dengan Yahudi yang hanya berpuasa Asyura. Selain itu, puasa Tasu’a termasuk amalan paling utama setelah puasa Ramadhan.

Apa itu Puasa Tasua?

Puasa Tasu’a adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sehari sebelum puasa Asyura. Amalan ini menjadi bagian dari rangkaian ibadah di bulan Muharram yang dianjurkan sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Puasa Tasu’a memiliki makna yang mendalam, yaitu mengikuti anjuran Rasulullah SAW serta menjaga identitas ibadah umat Islam. Pasalnya, dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seringkali melakukan puasa Asyura sebagai bentuk rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa As. dari kejaran Fir’aun di Laut Merah.

Karena umat Yahudi mengagungkan peristiwa ini dengan melakukan puasa tanggal 10 Muharram, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajak umat Islam berpuasa di hari sebelumnya sebagai pembeda. Perintah ini tercantum dalam hadis riwayat Muslim dari Ibnu Abbas Ra. yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Saat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam puasa Asyura dan juga memerintahkan para sahabatnya berpuasa; para sahabat berkara, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.’ Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan Muharram.” Namun, tahun depan itu tak kunjung tiba karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat.”

Meskipun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam secara fisik tidak pernah melakukan puasa Tasu’a, tapi beliau punya keinginan menunaikannya sebelum pada akhirnya wafat di bulan tersebut.

Baca Juga: Peristiwa yang Terjadi di Hari Asyura atau 10 Muharram

Bagaimana Hukum Puasa Tasua?

Sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan para sahabat berpuasa sehari sebelum puasa Asyura agar tidak sama dengan kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani. Artinya, hukum puasa Tasua adalah sangat disunnahkan bagi umat Islam sebagai pembeda dari umat lain, bahkan diperbolehkan menambah durasi puasa selama bulan Muharram.

Sebab, Tasua termasuk dalam salah satu hari di bulan Muharram yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga, barangsiapa yang memperbanyak ibadah, termasuk berpuasa, maka akan mendapatkan pahala berlipat ganda bahkan pengampunan dosa selama setahun lalu.

Pandangan ini semakin diperkuat oleh hadis lain riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada kesembilan, yaitu hari Asyura.”

Lantas, tak jarang muncul pertanyaan apakah boleh puasa Tasua saja tanpa Asyura? Jawabannya adalah boleh, meski tingkat keutamaanya berbeda dengan menggabungkan tanggal 9 dan 10 Muharram. Sebab, hukumnya sunnah, bukan puasa wajib.

Hal ini secara implisit termaktub dalam Kitab al-Umm bahwa madzhab Syafi’i membolehkan seseorang berpuasa satu hari saja (puasa Asyura) tanpa iringan puasa sebelum atau sesudahnya, dengan catatan meniatkan ibadah sesuai syariat Islam.

Niat Puasa Tasua

Jika hendak melakukan puasa Tasu’a, niat yang harus Anda ucapkan adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sunnatit Tasu’ai lillahi Ta’ala.

Artinya: “Saya niat puasa Tasua, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Niat ini bisa Anda ucapkan sebelum terbitnya fajar (waktu Subuh). Akan tetapi, bila Anda terlupa, maka niat boleh dilakukan pada siang hari asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum.

Apa Keutamaan Puasa Tasua?

Menjalankan ibadah pada bulan Muharram, seperti puasa Tasu’a maupun Asyura, memiliki berbagai keutamaan bagi umat Islam. Berikut adalah beberapa di antaranya.

1. Mengiringi Puasa Asyura yang Lebih Utama

Puasa Tasu’a sunnah sebagai pengiring puasa Asyura untuk menyempurnakan ibadah di bulan Muharram. Ketika menjalankan keduanya, umat Islam tidak hanya mendapatkan keutamaan puasa Asyura, tetapi juga mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam membedakan praktik ibadah dari umat terdahulu.

Meski demikian, jika seseorang hanya melaksanakan puasa Asyura tanpa didahului puasa Tasu’a, hal tersebut tetap diperbolehkan dan tidak dianggap menyamai praktik kaum Yahudi. Puasa Tasu’a bersifat sebagai penyempurna, bukan syarat wajib, sehingga puasa Asyura tetap sah dan berpahala meskipun dilakukan sendiri.

2. Membedakan Ibadah dengan Agama Lain

Puasa Tasu’a juga mengajarkan umat Islam tentang memahami perbedaan praktik ibadah dengan agama lain. Hal ini merujuk pada hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengajak para sahabat menambah puasa di hari sebelumnya sebagai ibadah penyempurna.

Keinginan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk berpuasa tanggal 9 Muharram menandakan bahwa puasa Asyura sebaiknya tidak dilakukan secara tunggal. Oleh karena itu, sebaiknya umat Islam mengiringinya dengan puasa Tasu’a bahkan menambah pada tanggal 11 Muharram, agar berbeda dari kebiasaan umat Yahudi.

3. Melaksanakan Sunnah sesuai Impian Rasulullah

Menjalankan puasa Tasu’a menjadi bentuk upaya mengikuti anjuran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang berniat berpuasa tanggal 9 Muharram. Namun, niat tersebut belum sempat beliau laksanakan karena wafat terlebih dahulu.

4. Mendapat Pahala Berlipat Ganda

Puasa Tasu’a termasuk dalam amalan di bulan Muharram, yaitu salah satu bulan yang mulia dalam Islam. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang berbunyi:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).

Temani Momen Ibadah dengan Kenyamanan Terbaik

Puasa Tasua menjadi amalan sunnah yang menyempurnakan puasa Asyura sekaligus mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Selain bernilai pahala, ibadah ini mengajarkan makna ketaatan, konsistensi, dan upaya menjaga kemurnian praktik ibadah dalam Islam.

Sarung Mangga menjadi pilihan ideal untuk memberikan kenyamanan selama beribadah. Sarung tenun kebanggaan para santri ini hadir dengan berbagai motif dan warna elegan membuat percaya diri meningkat.

FAQ

Apa perbedaan puasa Tasu’a dan Asyura?

Puasa Tasu’a menjadi pengiring sekaligus penyempurna puasa Asyura yang membedakan praktik ibadah umat Islam dengan agama lain.

Apa tujuan berpuasa Tasu'a?

Memperoleh pahala dan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, hari Tasua berada di bulan Muharram yang mulia.

Apa keistimewaan puasa Tasu’a?

Sebagai penyempurna amalan utama di bulan Muharram, yaitu puasa Asyura, dan menjadi pembeda dari agama lain.

Bolehkah umat Islam berpuasa Tasu'a saja?

Boleh. Akan tetapi lebih baik melakukan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram secara lengkap.

Sumber:

  1. https://mui.or.id/baca/berita/niat-puasa-tasua-dan-asyura-lengkap-dengan-keutamaan-melaksanakannya?page=9

  2. https://jatim.nu.or.id/keislaman/niat-puasa-tasu-a-dan-asyura-9-10-muharram-lengkap-dengan-keutamaannya-CvMXy

  3. https://baznas.go.id/artikel-show/Niat-Puasa-Asyura:-Panduan-Lengkap-Menyambut-10-Muharram-Penuh-Berkah/1590

  4. https://muhammadiyah.or.id/2025/07/dalil-dalil-disyariatkannya-puasa-tasua-dan-asyura/

  5. https://zakat.or.id/puasa-tasua-9-muharram-dan-niatnya/

  6. https://muhammadiyah.or.id/2023/07/asal-usul-puasa-tasua-dan-asyura/

  7. https://jatim.nu.or.id/keislaman/sejarah-puasa-tasu-a-dan-asyura-serta-tata-cara-pelaksanaannya-4bzOC

  8. https://www.harakatuna.com/hukum-puasa-tasua-di-bulan-muharram.html

  9. https://nu.or.id/bahtsul-masail/hukum-puasa-asyura-tanpa-puasa-9-dan-11-muharram-bgm4D

  10. https://ejournal.kopertais4.or.id/tapalkuda/index.php/alyasini/article/view/4280/3071

Tags