Blog Kisah - kisah Sahabat Nabi

Utsman bin 'Affan, Teladan Sahabat Nabi yang Kaya tapi Dermawan

Perjungan dakwah Islam tak hanya berpusat di masjid. (Ilustrasi)
Perjungan dakwah Islam tak hanya berpusat di masjid. (Ilustrasi)

Kepemimpinan Islam berdiri di atas kepemimpinan Ketuhanan (Ketauhidan), setiap manusia hanya tunduk dan patuh kepada kepemimpinan Allah Subhanahu wa-ta'ala (SWT) yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu SAW. Kerja kepemimpinan Muhammad merupakan wujud dan pesan-pesan kepemimpinan-Nya.

Kepemimpinan dalam Islam tidak dibenarkan jika terdiri dari orang-orang zalim, fasik, nifaq, kufur dan syirik (orang yang gemar melakukan dosa keji seperti zina, korupsi, manipulasi merebut kekuasaan dan sebagainya). Apabila terdapat seorang pemimpin yang seperti ini dalam Islam, maka eksistensi kepemimpinannya akan batal, tidak sah dan tidak memperoleh ketajallian Allah, syafaat Rasul-Nya, serta restu penghuni bumi.

Perkataan khalifah digunakan setelah wafatnya Rasulullah SAW, terutama bagi keempat orang Khalifahur-Rasyidin, menyentuh juga maksud yang terkandung di dalam perkataan "Amir‟, disebut juga penguasa atau dalam Tarikh Islam dibutkan "Amirul Mukminin". Kepemimpinan yang menyentuh berbagai bidang tidak saja aspek-aspek pemerintahan dalam berbangsa dan bernegara, tetapi juga aspek-aspek keagamaan dalam bermasyarakat.

Dalam Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda: Siapa saja yang menggali Sumur Rumata maka untuknya surga". Maka suur tersebut digali oleh Utsman. Rasul SAW pun bersabda lagi: Barangsiapa yang mendanai pasukan 'Usrah maka untuknya surga". Maka Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu mendanai pasukan tersebut" (HR Bukhari)

Di antara termasuk dalam Khulafaur-Rasyidin adalah Utsman bin 'Affan. Utsman bin Affan adalah salah satu Sahabat Nabi yang menjadi khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab. Khulafaur-Rasyidin yang diangkat menjadi khalifah pada usia 70 tahun.

Kisah Utsman bin Affan tak lepas dari saat ia menjadi khalifah selama 12 tahun, yakni pada masa pemerintahan tahun 644 hingga 656 M atau 12 Dzulhijjah 35 H. Ia adalah khalifah dengan masa jabatan terlama yang berasal dari Bani Umayyah. Beliau juga mendapatkan gelar dzun nurain atau pemilik dua cahaya karena telah menikahi dua putri Rasulullah SAW.

Kisahnya menginspirasi, bahkan malaikat saja sampai takjub melihat Utsman yang begitu cerdas dan taat dalam menjalankan agama islam. Pengalaman adalah guru terbaik dan hal tersebut bisa Sahabat dapatkan dengan mengambil hikmah dari kisah Usman bin Affan. Di antara kisah dan keteladanan Utman bin Affan sebagai berikut:

Sahabat Nabi yang Dermawan

Kisah abadi Utsman bin Affan mewakafkan sumur adalah bukti sifat kedermawanannya pada harta. Jika dikonversi ke dalam rupiah, nilai kekayaannya mencapai Rp2.532.942.750.000. Namun, ia sama sekali tidak menimbun, melainkan Utsman senang menggunakan hartanya untuk sedekah, zakat, atau wakaf yang manfaatnya berkepanjangan untuk dunia dan akhirat. Di dunia, banyak masyarakat Madinah yang merasa tertolong dan berdaya dengan adanya sumur Raumah.

Pada saat Nabi Muhammad dan masyarakat Madinah kesulitan mencari air, Rasulullah bersabda:

“Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka ia akan mendapatkan surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

Awalnya, Utsman membeli Sumur Raumah dari Yahudi agar Rasulullah dan masyarakat Madinah bisa minum di tengah panceklik. Bermula dari Utsman membeli setengah air, hingga akhirnya membeli sepenuhnya setelah kesepakatan yang lain dengan pemilik sumur. Sampai sekarang, wakaf sumur dari Utsman hadir dengan kokoh selama 14 abad sebagai devisa negara Saudi.

Menjaga Akidah dengan Menghafal Al-Quran

Sikap inspiratif dari Utsman bin Affan selanjutnya adalah teguh akidah. Selain pandai berfikir strategis, Utsman juga seorang penghafal Al Quran. Hasratnya dalam mengafal Al Quran membuat Ali berdecak kagum. Di sisi lain, ia mempraktekkan agama dan kehidupan secara berdampingan.

Selain menjalani kehidupan sebagai penghafal Al Quran, ia memiliki kisah istimewa saat percaya terhadap Islam. Sahabat perlu tahu kalau Utsman bin Affan termasuk ke dalam golongan Assabiqunal Awwalun atau orang-orang pertama yang memeluk Islam. Setelah mendengar Utsman masuk Islam, pamannya yakni Al-Hakam bin Abil Ash sangat marah hingga mencambuknya berkali-kali agar kembali kepada agama nenek moyangnya.

Utsman tidak gentar. Ia tetap teguh pada akidahnya hingga menjawab, “Demi Allah aku tidak mengganti keyakinanku, aku tidak akan meninggalkan agama yang diajarkan Rasulullah, apa pun yang terjadi pada diriku.”

Karena keteguhannya, pamannya pun menyadari Utsman tidak mungkin kembali ke agama nenek moyang. Maka dari itu, ia melepaskan Utsman bin Affan dari siksaan.

Sahabat Nabi yang Disegani Rasulullah dan Malaikat

Utsman adalah sosok yang selalu memprioritaskan urusan orang lain, baru kemudian urusan pribadi. Suatu hari, Abu Bakar bertamu ke Rasulullah. Saat itu, Rasulullah menyambutnya dengan salam. Posisi beliau sedang santai di atas tempat tidur, lalu duduk, kemudian bagian gamisnya sedikit terangkat, sehingga menampakkan sebagian betisnya.

Usai Abu Bakar Ash-Shiddiq pulang, giliran Umar bin Khattab datang bertamu. Sikap duduk Rasulullah masih sama saat berbincang dengan Abu Bakar. Setelah Umar selesai dengan urusannya, giliran Utsman yang ingin bertemu Rasulullah. Sontak, beliau mengubah posisi duduknya yang tadinya betisnya tersingkap, menjadi tertutup.

Sesaat setelah Utsman pulang, Aisyah yang memerhatikan gerak gerik Rasulullah bertanya,

“Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak bersiap begitu bagi kedatangan ayahku (Abu Bakar) dan Umar?”

Rasulullah menjawab bahwa Utsman adalah sosok yang pemalu. Ia memiliki karakter apabila urusan orang lain, termasuk Rasulullah, belum selesai, maka ia akan buru-buru pulang, padahal keperluan Utsman sendiri belum kelar. Sikap pemalunya disegani oleh malaikat,

“Utsman merupakan seseorang yang pemalu. Bila dia masuk, sedangkan aku masih berbaring, pasti dia malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang, padahal belum dia menyelesaikan keperluannya. Wahai, Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seseorang yang dimalui (disegani) oleh para malaikat?” ujar Rasulullah.

Utsman bin Affan Berjiwa Sosial Tinggi

Rasulullah mengenal Utsman bin Affan sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi. Utsman akan gelisah bila ia mengetahui orang yang kesulitan, namun ia tidak dapat membantu. Seperti saat umat Islam di Madinah dilanda krisis ekonomi, sehingga sulit menghadapi Perang Tabuk karena minim armada.

Utsman adalah sosok yang tidak akan meninggalkan Sahabat sendirian saat kesulitan. Ia pun menyumbang 300 ekor unta dan 1000 dinar dari kantong pribadinya untuk Perang Tabuk. Rasulullah SAW yang menerima bantuan tersenyum seraya mendoakan Utsman agar dosa-dosanya, baik yang dirahasiakan maupun dosa yang ia nyatakan diampuni oleh Allah.

“Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, wahai Ustman. Dosa yang kamu rahasiakan maupun dosa yang kamu nyatakan” (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)

Membukukan Ayat Al-Quran Jadi Mushaf

Utsman bin Affan bersama para penghafal Al Quran seperti Abu Darda dan Zaid bin Tsabit menghimpun lembaran Al Quran menjadi mushaf. Sebelumnya, pengumpulan dan penulisan ulang ayat Al Quran sudah dilakukan sejak masa khalifah Abu Bakar. Hanya saja, saat itu lembarannya masih terpisah satu sama lain.

Ide brilian utnuk menyatukan lembaran ayat muncul pada masa khalifah Utsman. Lalu, ia mengambil lembaran yang disimpan di rumah Hafsah binti Umar untuk dibukukan.

Utsman bergegas membentuk panitia untuk mengemban tugas besar ini dengan memilih Zaid bin Tsabit sebagai ketua. Dalam prosesnya, lembaran ayat disalin untuk disusun menjadi bentuk mushaf. Setelah selesai, Usman mengembalikan lembaran Al Quran pada Hafsah. Mushaf pertama ia simpan di Madinah, empat buah lainnya dikirim ke Mekkah, Syria, Basrah, dan Kuffah untuk dicetak lebih banyak.

Sahabat yang Kaya, Berprinsip Hidup Sederhana

Utsman bin Affan adalah saudagar kain kaya raya yang memiliki sifat sederhana. Ia adalah salah satu orang terkaya di antara orang-orang Quraisy. Kendati demikian, jiwanya tetap sederhana dan suka berdonasi untuk membantu orang-orang yang kesulitan hingga mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Itulah kisah dan biografi Usman bin Affan, sebagaimana ditulis DR Musthafa Murad, Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, yang dapat Anda tiru sebagai sosok yang ideal. Semasa hidupnya, Utsman menyeimbangkan dunia dan akhirat secara cerdas. Ia juga tidak acuh pada lingkungannya hingga Rasulullah SAW merasa Utsman adalah sahabat yang dapat diandalkan. Ia senantiasa tolong menolong dalam kebaikan.

Tags